Menumpas Teroris Tak Cukup dengan Senjata

0

Posted by Muliardy Banun | Posted in Berita Populer | Posted on 23-04-2011

Tags: , ,

TerorisMenumpas Teroris Tak Cukup dengan Senjata

Jakarta – Persoalan terorisme di Indonesia kembali menghangat seiring peristiwa bom syahid yang dilakukan M Syarif di Mapolres Cirebon Kota, Jumat (15/4/2011). Penyelesaiannya tak cukup dengan senjata.

Peristiwa ini sama sekali tidak linier dengan upaya aparat negara khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88 dalam menumpas jaringan dan sel teroris. Alih-alih aksi terorisme mereda, justru aksi atas nama agama ini kian menggeliat. Ini bukti, senjata tak ampuh tumpas teroris.

Demikian mencuat dalam Dialog Kenegaraan ‘Modus Baru Teror Bom dan Stabilitas Daerah’yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menghadirkan pembicara Sidney Jones (pengamat terorisme), Sutiyoso (mantan Gubernur DKI Jakarta), Taslim Chaniago (anggota Komisi Hukum DPR) dan Margarito Kamis (pengamat hukum), Rabu (20/4/2011) di Gedung DPD RI, Jakarta.

Pengamat terorisme Sidney Jones menyebutkan peristiwa terbaru di Cirebon dengan aksi bom syahid di masjid menunjukkan cara baru yang dilakukan kelompok radikal dari kelompok kecil. Menurut Sidney, bom Cirebon menunjukkan asa upaya jihad dari kelompok kecil karena akan makin sulit dideteksi daripada kelompok besar.

“Jadi tidak cukup hanya pikirkan perkuat RUU Intelejen atau anti teror. Hukum bukan solusi untuk ide-ide seperti itu. Kalaupun ada UU lebih kuat, bukan berarti gampang dideteksi,” ujarnya.

Sidneymenegaskan harus segera dilakukan program pencegahan terorisme di tengah-tengah masyarakat. Perempuen bule yang fasih berbahas Indonesia ini menyebutkan beberapa tempat yang rawan disusupi pemikiran jihad di majelis taklim, masjid dan sekolah-sekolah tertentu. “Tidak begitu sulit untuk identifikasi mesjid atau sekolah yang masalah. Tempat-tempat itulah fokus pencegahan. Disana masalahnya muncul,” cetusnya.

Pola indoktinasi terhadap individu-individu, menurut Taslim Chaniago, justru lebih sulit untuk mendeteksi. Karena yang bergerak pribadi-pribadi bukan lagi organisasi. Pola ini juga meniadakan penunjukan siapa ‘pengantin’nya. “Yang perlu dicermati bagaimana cara rekrutmen mereka dan petakan daerah-daerah rekrutmen,” ujarnya.

Mantan Gubernur DKI Sutiyoso menegaskan yang bisa melakukan pencerahan terhadap masyarakat terkait pemahaman keagamaan yang radikal adalah para ulama dan agamawan. Harus ada cuci otak terhadap mereka yang telah terbuai pemahaman keagamaan yang salah. “Kyai dan ustadz bisa melakukan cuci otak kepada mereka yang telah indoktrinasi. Utamakan cuci ulang kepada orang-orang yang sudah terkontaminasi,” katanya.

Sutiyoso menegaskan tidak cukup bagi aparat keamanan melakukan aksi penumpasan teroris dengan aksi penembakan dan sejenisnya. Yang paling utama, kata Sutiyoso harus dilakukan cuci otak kepada mereka yang telah terindoktinasi khususnya kaum muda. “Pemerintah harus ada low enforcement,” tegasnya.

Sementara pengamat hukum Margarito Kamis menilai persoalan terorisme tidak sekadar domain aparat keamanan semata. Institusi sipil seperti pemerintah daerah harus turut serta melawan terorisme. Institusi terendah negara seperti Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) harus menjadi garda terdepan dalam mendeteksi aksi terorisme. “Institusi RT/RW harusnya dibuat bekerja, namun itu tidak diintrodusir oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri),” katanya.

Peran ulama dan kyai menjadi penting terkait pemahaman radikal yang menghinggapi umatnya, khususnya dari kalangan anak muda. Peristiwa bom Cirebon di satu sisi menjadi tamparan keras kepada para agamawan yang teledor membimbing umatnya. “NU merasa tertampar dengan peristiwa bom Cirebon,” aku KH Husein Muhammad, ulama asal Cirebon mengomentari peristiwa bom bunuh diri itu.

Support To :  Websasdesign.com Cinta Blogger

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • blogmarks
  • connotea
  • Fark
  • LinkaGoGo
  • MySpace
  • Propeller
  • Reddit
  • Simpy
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

Write a comment